Padahal Di luar , Sedang Tidak Turun Hujan
Aku takut . . .Aku takut bila harus mengakui perasaan ini . Perasaan yang mungkin tak pantas lagi untuk Aku simpan. Ya , karena mu , Aku berdusta.
Aku takut . . .
Aku takut bila harus mengakui bahwa Aku masih mencintaimu . Dengan sisa tenaga ini , ku coba untuk membuang . Membuang semua rasa yang masih berada di sana sejak Kau dan Aku masih menjadi Kita . Ya , karena kita , Aku berdusta.
Aku takut . . .
Aku takut bila harus melihatmu . Melihatmu yang sudah bahagia . Melihatmu yang bisa tersenyum dan tertawa . Aku hanya bisa mengiba , mencoba lapangkan jiwa . Jiwa yang telah ronta di makan siksa . Siksa yang datang bersamanya . Ya , karena Dia , Aku berdusta.
Aku takut . . .
Aku takut bila harus bertemu denganmu . Bertemu dengan dirimu yang telah ku lepas pergi . Dirimu yang ku lepas karena kecewaku . Kecewaku yang sudah terlanjur mengada . Dengan logika kemudian ku tersadar , namun semua sudah tersia. Ya , karena Logika , Aku berdusta.
Aku takut . . .
Aku takut bila harus bertatap muka denganmu , berpandang mata denganmu . Aku takut pelupuk mataku tak mampu membendung air mata . Air mata yang entah karena rasa bahagia , kecewa , takut , menyesal , dan cinta (?) yang masih dalam terasa . Air mata yang bahkan tak pernah ku gunakan untuk menangisi dirimu sebelumnya . Ya , demi Air mata , Aku berdusta.
Maaf untuk perasaan yang belum sirna ini.
Maaf untuk pertemuan Kau dan Aku.
Maaf untuk kita.
Maaf untuk semua yang telah kita lalui bersama.
Maaf untuk semua waktu yang telah sirna.
Maaf untuk perpisahan yang harus ada.
Maaf untuk semua kata yang ada.
Maaf untuk semua yang tak terucap dalam kata.
Maaf untuk semua harapan dan asa yang pernah ada.
Maaf untuk ungkapan perasaan ini.
Sekarang , Kamu bebas ~
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
SIlahkan tinggalkan komentar