A Part With Another Rain
Hujan . . . Ah tak pernah bosan aku menunggunya. Hal yang selalu mampu membangkitkan kenangan . Bukan begitu ?Memang kita tidak pernah memiliki kenangan akan hujan. Namun , tetap saja aku menyukai hujan. Aku merasa ada yang hilang kala ia tak lagi mengunjungi ku. Mungkin jika Aku di perkenankan untuk memilih , Aku akan memilih hujan. Ya andai saja hujan itu memiliki raga , mungkin takkan pernah ku lepaskan dia.
Cocok. Aku penyuka hujan dan kau penyuka angin. Kau selalu bisa membawa hujan bersamamu , dan kau juga yang membawanya pergi. Ah . . . itu memang dirimu selalu datang dan pergi. Aku tidak pernah habis pikir , kapan ku akan berhenti menanti. Ya , menanti angin yang akan selalu membawa hujan.
Andai saja Aku mampu membuat anginku sendiri untuk membawa hujan. Mungkin , tak pernah ku harap lagi hadirmu. Namun, laksana angin , kau tidak selamanya berhembus selalu ada yang lain untuk menggantikanmu. Angin yang membawa hujan baru. Benar saja , Angin itu kadang mampu menghapus debu yang kau tinggalkan begitu saja kala kau pergi.
Namun, Kembali. Angin baru itu juga tetap akan pergi. Dan kau , tentu saja akan kembali. Membawa lagi cerita yang pernah kau alami , entah di mana , kapan dan bagaimana. Ah biarkan Aku mengumpat Aku tak peduli lagi.
Kadang Aku bertanya , kenapa kau kembali ? Namun selalu saja kau punya alasan untuk mengelabui. Ya , mengelabui hati yang kadang tak mengerti mengapa Aku terus menanti. Namun terkadang kau tak menyadari Aku tak pernah sama lagi. Saat angin baru membawa kabar akan dirimu saat itulah akhir dari penantianku.
Kini, seakan selalu ada angin yang membawa hujan kemari , dengan atau tanpa angin darimu. Nyatanya , titik air tetap saja menemani , jatuh entah dari mana.
Kau kembali pun bukan lagi sebagai angin yang selalu Aku tunggu. Kini kau hanya sebagai angin pembawa hujan seperti yang lainnya.
Kini hanya tentang ku dan hujan yang menemani ku. . . .
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
SIlahkan tinggalkan komentar