Rain : So Far So as Long You Go
Hujan , hujan dan hanya hujan yang selalu mampu membuat aku tersadar.Aku ingat akan mereka yang mengenaliku karena hujan. Entah mengapa hujan dan diriku seakan tak terpisah. Hujan sudah menjadi temanku sejak lama. Bahkan sebelum Aku mengenalmu dan temanmu. Ya, dia yang bernama Cinta entah mengapa kau selalu mengagungkannya di atas segala.
Kau dan cinta sama halnya seperti Aku dan hujan . Dua hal yang identik namun sarat akan makna. Dua hal yang akan sirna namun selalu akan ada bahagia setelahnya. Dua hal yang seakan membuat bahagia tapi kadang menjadi bencana. Aneh memang tapi kita bisa bersama.
Kau pernah berkata , kau cemburu pada hujan karena dia selalu bisa membuatku tersenyum namun kau tidak. Lantas , kenapa kau tak menjadi hujan saja ? Atau membuatku tersenyum terlalu sulit untukmu ?
Pernahkah aku cemburu kepada Cinta atas dirimu ? Tidak, Aku tak seperti dirimu . Aku tersenyum spontan kepada hujan , sedangkan dirimu mencari bahagia di tengah cinta. Entah kapan kau akan menemukannya Aku hanya mampu mengira.
Hari berlalu hujan masih menemaniku. Namun, tidak dengan dirimu , kau pergi mengejar cinta saat kau berkata bahwa cinta telah pergi meninggalkanku hingga kau pun mengikutinya. Sejak kapan cinta bersamaku ? Aku tidak pernah sadar akan hadirnya , sedari dulu yang ada disini hanyalah hujan tak ada yang lain.
Alunan lagu sendu di sore itu mengiringi kepergianmu yang ku tahu kini sedang mengejar cinta, sedangkan Aku masih disini di temani hujan. Ah, hujan memang teman yang baik , seandainya bisa Aku bisa seperti dirimu memberikan ketenangan di saat pilu.
Suatu hari saat Aku masih asyik bercengkrama dengan hujan , seketika kau datang kembali. Kau bilang ternyata cinta tidak pergi , dia ada disini selalu menemani. Ya, menemani Aku dan hujan tapi kami tidak atau hanya belum menyadarinya. Kau bilang cinta sangat ingin berada disini , hingga kau bertanya bisakah kita bersama lagi seperti dulu ? Ya. Aku , Hujan , Kamu dan Cinta namun Aku dan hujan hanya tertawa dan berkata kami lebih suka berdua. Kami lebih suka bercanda dalam duka dari pada bahagia bersama cinta. Akhirnya kau kembali pergi kembali menyisakan Aku dan Hujan , tanpa sadar kini Hampa menunjukkan dirinya pada kami. Ya , dia yang sedari dulu selalu mengawasiku dan hujan.
Sebenarnya apa yang kami tunggu ? Mungkin dia dengan Matahari atau Pelangi bisa juga Senja ? Ah, Aku tidak pernah ambil pusing dengan itu , hanya saja Aku tidak pernah bisa melihat cinta , hingga kadang Aku bertanya dimana sebenarnya dia. Kali ini Hujan dan Hampa menertawaiku Akupun ikut tertawa.
Hingga Dia tiba membawa Angin dan Matahari bersamanya , membuat Hujan dan Hampa pergi meninggalkanku , kelak Aku akan bertanya kapan mereka akan kembali . . .
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
SIlahkan tinggalkan komentar